Aku seorang Solopus Semarangensis

solokateboard pictureBingung sama judul di atas? Tante Wiki pun ngga punya terjemahannya. Itu cuma hasil pen-jeplak-an dari mulut saya doang, biar lebih enak menyebut diri saya yang berasal dari Semarang dan sekarang berdomisili di Solo. Tanpa bermaksud melupakan kota asal saya yang beriklim ‘hangat-hangat tahi naga’, saya cuma pengin berbagi pengalaman saya selama tinggal di kota Solo, kota yang orang bilang berpenduduk Lelembut (sikapnya halus).

Yup, nickname-nya Solo, ato nama resminya Surakarta. Kota dengan wilayahnya yang tergolong kecil tapi ramainya minta ampun. Letaknya kurang lebih 100km arah selatan dari Semarang, mungkin jaraknya akan lebih pendek kalo jalan tol Semarang-Solo sudah jadi. Kota ini mempunyai sejarah panjang, dari jaman kerajaan Mataram hingga saat ini bisa menjadi sebuah kota budaya yang modern. Mungkin karena masih terbilang baru di Solo, saya sendiri kurang paham tentang sejarah masa lalu Solo (cuma alesan doang). Saat ini kota Solo sedang mengibarkan panjinya sebagai kota Batik. Apa bedanya sama kota batik Pekalongan? saya sendiri juga baru nyari tau. Yang jelas kegiatan batik-membatik di Solo sudah ada sejak jaman kuda hingga jaman Honda. Batik memang menjadi ikon di kota ini, dan soal kualitas ngga diragukan lagi. Batik Solo sudah dijual dimana-mana. tapi rasanya kurang manteb kalo ngga beli langsung di Solo. Jadi catat : Kalo ke Solo harus beli batik. Ting!

Sebagai salah seorang outsider, saya pun juga melihat (ngga mengalami proses) pertumbuhan yang sangat pesat pada kota ini. Sejak kecil bisa dibilang saya sering mampir ke Solo sekedar untuk berkunjung ke rumah Nenek, cuma numpang tidur karena ngga tau mau dolan ke mana. Seingat saya Solo beberapa tahun yang lalu ngga se-“gemerlap” saat ini. Sekarang banyak pilihan melancong di Solo, jadinya malah tambah bingung mau dolan kemana. Ada mall, grosir batik di Beteng dan Pasar Klewer, Taman Balekambang, Kampung batik Laweyan, Night Market di Ngarsopura, dan sebagainya. Belum lagi wisata kulinernya, bahkan PKL pun jadi tujuan wisata. Ada gudeg ceker, tahu kupat, dan yang paling ultimate adalah thengkleng.

Solo merupakan kota yang berhasil merelokasi pedagang PKL dengan damai, bahkan pake kirab segala. Wow. Dan ternyata solusi yang diberikan oleh bapak Walikota menguntungkan para pedagang juga. Kata beberapa warganya sih, itu berkat kerjasama antara pak Walikota JokoWi dan masyarakat Solo dalam menata kotanya (ini bukan kampanye lho). Hmm, boleh juga.

Logo Solo

Buktinya, karena Solo layak dijadikan contoh sebagai kota yang berhasil menerapkan program pembangunan berkelanjutan, rencananya, kota ini ditunjuk sebagai tuan rumah pelaksanaan Konferensi Pembangunan Perumahan dan Perkotaan Berkelanjutan Se-Asia Pasifik (Asia Pacific Ministerial on Housing and Urban Development/ APMCHUD) pada 22–24 Juni 2010 mendatang. Acungkan jempol kalian!

Sejak setahun yang lalu saya tinggal sebagai anak kost di Solo untuk urusan bekerja, kepala saya selalu dipenuhi pertanyaan ” apa lagi? “. Ya, itu karena di Solo buanyak sekali event-event kelas berat, yang tetap bernuansa seni dan budaya, tapi dikemas se-merakyat mungkin sehingga masyarakat manapun bisa ikut hadir menikmati (gue banget!). Rasanya sayang banget kalo sampai kelewatan. Makanya ngga aneh kalo setiap ada kegiatan, pasti warga Solo dan sekitarnya selalu menyambut dengan antusias. Ada Solo Batik Carnival yang udah exist sampe Singapore, Solo Carnaval, Mangkunegaran Performing Art, Kemah Budaya dan Festival Dolanan Bocah, dan masih buanyak event lainnya. Kalau mau tau jadwal event-event Solo 2010 silakan tengok sendiri disini.

logo SIEMSalah satu event yang akan segera digelar tanggal 7-11 Juli 2010 nanti adalah Solo International Contemporary Ethnic Music (SIEM) 2010. Jujur aja saya berharap banget bisa menyaksikan acara akbar itu😀 gara-gara ngeliat foto liputan SIEM yang lalu dan Pre-SIEM 2010 disini.

Dari berbagai macem event di atas kita bisa liat usaha besar masyarakat Solo dalam melestarikan budaya dan membangun image kotanya. Dan faktanya, they did it !

Masih ada segudang hal menarik di Solo, mulai dari urusan mata, urusan perut, urusan belanja, urusan hunting foto, urusan bisnis, dan urusan-urusan lainnya, asal jangan urusan sama polisi aja.  Yang jelas saya bakalan capek kalo harus nulis semuanya.

Sekian dulu curhat saya tentang kota Solo, belum banyak hal yang saya tau, tapi banyak hal yang membuat saya penasaran sama kota ini.

Thanks for reading,

presto_sign

ayo menyang solo picture

Explore posts in the same categories: Corat-coret, Tulisan, Vector

Tag: , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

4 Komentar pada “Aku seorang Solopus Semarangensis”

  1. gadisjeruk Says:

    hmm.. berarti aku solopus cianjurensis..
    hehehe ^^,

  2. Asop Says:

    Wah, kalo gitu ijinkan saya menggunakan istilah ini juga. Saya “Bandungus Surabayangis”. 😆


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: